Setiap orang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Berbagai ikhtiar pun ditempuh untuk meraihnya.Namun, Islam tidak hanya menekankan pentingnya ikhtiar, tetapi juga akhlak. Kejujuran, kesantunan, dan tanggung jawab menjadi nilai yang membangun kepercayaan. Nilai-nilai tersebut tampak dalam kisah Nabi Musa a.s.
Kesopanan Menghiasi Sebuah Pertemuan
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Qashash: 25)
Al-Qur’an menggambarkan perempuan tersebut berjalan dengan penuh rasa malu. Sikap itu mencerminkan kehormatan diri, menjaga batas dalam pergaulan, dan menunjukkan akhlak mulia. Adab seperti ini menumbuhkan rasa hormat serta menjaga seseorang dari prasangka dan perilaku yang merendahkan martabatnya.
Perempuan itu menyampaikan undangan ayahnya kepada Nabi Musa a.s., dengan tutur kata yang baik. Beliau memenuhi undangan tersebut dan datang ke kediaman Nabi Syu’aib. Di sana, tamu itu menceritakan perjalanan hidupnya. Sang nabi kemudian menenangkan sekaligus meyakinkan bahwa Allah Swt. telah menyelamatkannya dari kaum yang zalim.
Kuat dan Amanah Menumbuhkan Kepercayaan
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Artinya:
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26)
Salah seorang putri Nabi Syu’aib menyampaikan pendapat kepada ayahnya agar mempekerjakan Nabi Musa a.s. Ia menilai Nabi Musa a.s., memiliki dua sifat yang sangat penting, yaitu kuat dan amanah. Penilaian itu lahir dari sikap yang ia lihat secara langsung, bukan dari pengakuan Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s. menunjukkan kekuatannya ketika membantu kedua putri Nabi Syu’aib memberi minum ternak tanpa mengharapkan imbalan. Beliau juga memperlihatkan sifat amanah melalui akhlak yang terjaga, tutur kata yang baik, serta sikap yang menghormati batas ketika berinteraksi dengan perempuan. Kedua sikap tersebut membuat salah seorang putri Nabi Syu’aib menyarankan ayahnya untuk mempekerjakan Nabi Musa a.s.
Kekuatan mencerminkan kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas dan menghadapi berbagai tantangan. Amanah mencerminkan kejujuran, tanggung jawab, dan komitmen dalam menjaga kepercayaan. Kedua sifat tersebut saling melengkapi. Kemampuan akan menghasilkan pekerjaan yang baik, sedangkan amanah akan menjaga kepercayaan yang orang lain titipkan.
Nilai tersebut tetap relevan hingga saat ini. Integritas menjadi bekal penting dalam pendidikan, dunia kerja, maupun kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, Islam membentuk umatnya agar tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
Kebaikan Menghadirkan Jalan Kehidupan
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ ۖ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya:
Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu InsyaAllah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”. (QS. Al-Qashash: 27)
Setelah melihat kejujuran, amanah, dan kemampuan Nabi Musa a.s., ayah kedua perempuan itu menawarkan salah seorang putrinya untuk dinikahi. Sebagai syarat, beliau memintanya bekerja selama delapan tahun. Apabila masa itu disempurnakan menjadi sepuluh tahun, tambahan tersebut menjadi kebaikan yang lahir dari kerelaan beliau sendiri. Ayah kedua perempuan itu juga berkomitmen memperlakukan beliau dengan baik tanpa memberatkan kesepakatan tersebut.
Peristiwa itu memperlihatkan cara Allah Swt., menghadirkan pertolongan kepada hamba-Nya. Nabi Musa a.s. datang ke Madyan tanpa membawa bekal kehidupan yang memadai. Beliau hanya membawa keimanan, kejujuran, dan semangat untuk berbuat baik. Allah Swt., kemudian membuka jalan melalui pertemuan yang berawal dari sebuah pertolongan sederhana. Dari peristiwa itu, Nabi Musa a.s., memperoleh tempat tinggal, pekerjaan, serta kesempatan membangun keluarga.
Dengan demikian, setiap muslim hendaknya menjadikan kisah Nabi Musa a.s., sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menjaga adab, berlaku jujur, serta memegang amanah merupakan bagian dari akhlak yang Islam ajarkan. Ketika nilai-nilai tersebut tumbuh dalam diri seseorang, kepercayaan akan mengikuti, sedangkan Allah Swt., akan membukakan jalan terbaik sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya.
(Arya Putra Nusantara/ Mediatech An-Nur II )